Gaung kesempurnaan Islam diangkat, MPTT-I buka pengkajian se-Indonesia Timur
Jurnalis riiljejak.id - Sabtu, 18 April 2026 | 22:02:07 WIB Dibaca 132X
MPTT-I
riiljejak.id —–» Gaung kesempurnaan Islam (Kaffah) dalam kesufian diangkat melalui Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I).
Kegiatan secara resmi dibuka untuk pengkajian Tauhid Tasawuf - Kesufian dan Rateb Seribe se-Indonesia Timur pasca Ramadan 1447 H. Bertempat di Desa Suka Maju, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo. Sabtu (18/4/2026).
MPTT-I yang dinakodai oleh Mursyid Kamil Mukamil Murabbina Abuya Syekh Haji Amran Walk Al-Khalidy melalui sang terkasih Tgk. H. Khairunnas Wali Nangroe Jakarta menghadiri kegiatan ini dan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali, S.Sos.,M.Si.
Kegiatan ini turut dihadiri Dewan Guru MPTT-I diantaranya Ketua Dewan Pembina MPTT-I KH Buya Muhammad Ansari Abasi al Makassari, Abun Muslim Blongkod dan Muhamad Fadli Suronoto yang ketiganya juga sebagai pimpinan pondok pesantren, Penasehat MPTT-I Prof. Dr. Nelson Pomalingo, Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali, S.Sos., M.Si bersama jajarannya.
Serta para Aleg DPRD Kabupaten Gorontalo, Camat Wonosari, perwakilan Polsek Wonosari, Kepala Desa Suka Maju, serta jama'ah MPTT-I se-Indonesia Timur, diantaranya dari Luwuk, Banggai, hingga termasuk se-Sulawesi Utara-Gorontalo dan Jama'ah di tempat kegiatan mesjid Al-Ikhlas Suka Maju yang tumpah ruah.
Kegiatan diawali dengan pensyarahan oleh Buya Ansari Abasi yang mengangkat tentang kesempurnaan Islam (Kaffah).
Dalam ulasan ini, semangat Islam yang rahmatan lil 'alamin, Islam yang membawa keselamatan bagi seluruh alam, senantiasa bergema dalam berbagai bentuk ekspresi spiritual umat Muslim. Salah satu dimensi terpenting dari ekspresi ini adalah kesufian, sebuah jalan yang berfokus pada pemurnian diri dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Secara konteks ini, MPTT-I hadir sebagai wadah dengan pemahaman mendalam mengenai tauhid (keesaan Allah) dan tasawuf (kesufian).
Inisiatif ini menandai upaya berkelanjutan untuk menyebarkan ajaran Islam yang otentik, yang berakar pada pengalaman spiritual mendalam dan tradisi para wali.
Hakikat Kesempurnaan Islam dalam Tasawuf
Kesempurnaan Islam, dalam pandangan tasawuf, tidak hanya terbatas pada pemenuhan rukun Islam dan rukun iman secara lahiriah. Lebih dari itu, kesempurnaan Islam dimaknai sebagai pencapaian kedekatan spiritual dengan Allah SWT melalui penyucian hati dan penajaman kesadaran ilahi.
Para sufi meyakini bahwa dengan membersihkan diri dari sifat tercela, seperti kesombongan, iri, dan cinta dunia yang berlebihan, seorang Muslim dapat membuka pintu hati untuk merasakan kehadiran Allah yang Maha Dekat.
Pengkajian Tauhid Tasawuf yang diselenggarakan oleh MPTT-I ini bertujuan untuk membimbing para peserta dalam memahami konsep-konsep fundamental tasawuf, seperti zuhud (hidup sederhana), tawakal (berserah diri kepada Allah), dan ikhlas (ketulusan dalam beramal).
Dengan pemahaman yang mendalam mengenai tauhid, para pengikut diharapkan dapat memperkuat keyakinan mereka akan keesaan Allah, sehingga seluruh aspek kehidupan mereka diarahkan semata mata untuk mencari ridha-Nya.
Peran MPTT-I dalam Pelestarian Tradisi Spiritual
MPTT-I memegang peranan krusial dalam melestarikan dan menyebarkan tradisi spiritual Islam, khususnya yang berkaitan dengan kesufian. Di Gorontalo dan Sulawesi Utara, penyelenggaraan pengkajian Tauhid Tasawuf pasca Ramadan ini menunjukkan komitmen MPTT-I dalam menghidupkan kembali praktik spiritual yang telah diwariskan oleh para ulama dan sufi terdahulu.
Praktik Rateb Seribe, yang merupakan salah satu bentuk dzikir berjamaah dan wirid, adalah contoh nyata dari tradisi kesufian yang dilestarikan. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama Muslim dan menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat sekitar. Pengkajian ini menjadi sarana penting untuk mengedukasi generasi muda tentang kekayaan warisan spiritual Islam, mencegah tergerusnya nilai nilai luhur akibat arus modernisasi, serta memperkuat identitas keislaman yang otentik.

