Ancaman perang Iran-AS kembali menguat jelang batas gencatan senjata, “Negosiasi jauh dari deal”
Jurnalis riiljejak.id - Minggu, 19 April 2026 | 22:22:24 WIB Dibaca 52X
Ilustrasi
riiljejak.id —–» Proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat meski kedua pihak mengklaim adanya kemajuan. Pernyataan terbaru dari pejabat tinggi Iran justru menegaskan bahwa kesepakatan masih jauh dari tercapai, sementara ancaman konflik militer kembali membayangi menjelang berakhirnya gencatan senjata pada Rabu mendatang.
Rilis jawapos.com dalam tayangan pidato yang disiarkan secara nasional pada Sabtu (18/4) malam, bahwa Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengakui adanya perkembangan dalam pembicaraan dengan AS. Namun ia menegaskan bahwa sejumlah perbedaan mendasar masih belum terselesaikan.
“Meski ada kemajuan, masih banyak kesenjangan dan beberapa poin fundamental yang tersisa… kami masih jauh dari tahap akhir pembahasan,” ujar Ghalibaf.
Isu program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz menjadi dua titik krusial dalam negosiasi. Situasi semakin kompleks setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali memberlakukan pembatasan di jalur strategis tersebut, kurang dari 24 jam setelah sebelumnya dibuka kembali.
Langkah itu disebut sebagai respons atas blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Ghalibaf bahkan menyebut kebijakan Washington sebagai tindakan 'bodoh' dan 'tidak masuk akal'.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan kapal negara lain melintas jika akses kapal-kapalnya sendiri dibatasi. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa militer Iran dalam kondisi siap penuh jika konflik kembali pecah sewaktu-waktu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen minyak dunia melewati wilayah tersebut. Pengamat menilai Iran menjadikan selat ini sebagai alat tawar paling kuat dalam negosiasi dengan AS.
Upaya untuk melanjutkan putaran kedua perundingan damai masih menemui jalan buntu. Sebelumnya, pembicaraan awal di Islamabad pada 12 April berakhir tanpa kesepakatan. Rencana lanjutan juga belum memiliki jadwal pasti.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan baru tidak akan dilakukan sebelum kedua pihak menyepakati kerangka dasar. Ia juga menuduh AS tetap bersikap “maksimalis” dalam tuntutannya.
Di sisi lain, Trump memberikan pernyataan yang saling bertolak belakang. Ia menyebut negosiasi berjalan baik dan komunikasi masih berlangsung, namun juga memperingatkan kemungkinan aksi militer.
“Jika tidak ada kesepakatan, kami mungkin harus mulai menjatuhkan bom lagi,” kata Trump, merujuk pada tenggat berakhirnya gencatan senjata.
Pernyataan keras tersebut dinilai sebagai upaya Washington untuk menekan Iran, sekaligus membingkai situasi di Selat Hormuz sebagai gangguan sementara, bukan kegagalan total negosiasi.
Sementara itu, mengutip Al-Jazeera, analis dari Teheran, Abbas Aslani, menilai Iran kini menghadapi tekanan dalam dua jalur sekaligus: diplomasi dan tekanan militer-ekonomi dari AS.
Menurutnya, Iran mempertanyakan keseriusan AS dalam mencapai kesepakatan di tengah kebijakan blokade, sanksi tambahan, dan peningkatan kehadiran militer di kawasan.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa gencatan senjata akan diperpanjang. Kedua pihak juga belum menunjukkan tanda-tanda kompromi yang signifikan menjelang tenggat waktu yang semakin dekat.
"Tidak ada tanda-tanda perpanjangan perjanjian ini, dan tidak ada yang membicarakan perpanjangan gencatan senjata ini," katanya kepada Al Jazeera.
Situasi ini membuat risiko konflik terbuka kembali meningkat, dengan Selat Hormuz dan program nuklir Iran tetap menjadi pusat ketegangan global.

