Portal berita ini berkomitmen untuk menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan relevan bagi pembaca. Portal ini dirancang untuk memastikan konsistensi dalam gaya penulisan, tata bahasa, serta pengemasan berita.

Hubungi Kami

Alamat

Jl.Bendungan, Desa Batubantayo, Kecamatan Pinogaluman, Kab. Bolaang Mongondow Utara

Telepon

+62 813-5640-9505

Puncak Penas ke-17 di Gorontalo, Presiden Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Indonesia Harus Dinikmati Petani dan Nelayan

Jurnalis riiljejak.id - Rabu, 24 Juni 2026 | 16:16:39 WIB Dibaca 95X

Blog Image

Puncak Penas ke-17 di Gorontalo

riiljejak.id  —–»  Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri acara Pertemuan Nasional (Penas) Petani Nelayan 2026 (24/6). Kehadiran ini menjadi momen perdana dirinya menghadiri agenda besar tersebut sebagai Kepala Negara, sekaligus menegaskan kembali kedekatan emosional dan komitmen politiknya terhadap sektor pertanian dan kelautan nasional.

Di hadapan ribuan petani dan nelayan, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa syukur untuk pencapaian besar dalam sektor pangan nasional. Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan. 

Dalam 1 tahun 8 bulan sampai sekarang, telah banyak yang kita capai. Yang paling besar dan saya syukuri adalah kita berhasil swasembada pangan. Produksi beras dan jagung kita mencapai titik tertinggi sepanjang negara kita berdiri," tegas Presiden.

Presiden Prabowo juga menceritakan kilas balik perjuangan politiknya yang konsisten menentang paham ekonomi neoliberal. Ia mengkritik keras pandangan masa lalu yang lebih mengutamakan impor beras dari luar negeri ketimbang membela efisiensi petani lokal.

"Kita berjuang ratusan tahun untuk mendirikan negara merdeka agar rakyat kita sejahtera! Agar petani, nelayan, buruh, seluruh rakyat Indonesia bisa hidup dengan baik, anak-anak bisa sekolah, dan punya rumah layak. Kita bukan merdeka hanya sekadar untuk merdeka," ucapnya dengan nada tegas.

Mengakhiri arahannya, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk kompak dan bangga terhadap hasil produksi dalam negeri. Menghadapi persaingan global yang ketat, Indonesia membutuhkan stabilitas dan kerja sama, bukan kritik menjatuhkan di tengah jalan.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan berkeadilan sosial agar kekayaan alam Indonesia benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat, terutama 160 juta petani beserta keluarganya dan 14 juta nelayan yang menjadi pilar utama kedaulatan pangan bangsa. (Ihlas)