Gusnar dan Reda Dorong Pendidikan Cinta Alam Sejak Dini di Gorontalo
Firar - Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:14:40 WIB Dibaca 8X
Foto: Istimewa
riiljejak.id —–» Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Reda Manthovani mendorong pendidikan cinta alam sejak usia dini.
Keduanya menyampaikan pesan tersebut saat melepasliarkan burung dan penyu di Pantai Boliohuto, Kabupaten Boalemo, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut mengajak masyarakat menjaga kelestarian alam. Pemerintah juga mendorong masyarakat menjaga keberlanjutan ekosistem melalui aksi nyata.
Gusnar menilai pelepasliaran penyu memiliki nilai penting bagi pelestarian satwa. Ia menyebut populasi penyu semakin sulit ditemukan di alam.
Menurut Gusnar, predator seperti biawak mengancam telur dan anak penyu. Kondisi tersebut membuat penangkaran memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan penyu.
“Kita cari yang kecil-kecil itu sudah susah sekali kecuali dibantu oleh manusia sebagai penangkar sehingga dia diamankan. Sebab itu harap maklum kalau Pak Kajati harus cari di Sulawesi Utara, agak jauh dari tempat ini penyu penyu seperti ini tapi sebagian juga ada di Gorontalo,” kata Gusnar.
Gusnar juga meminta pembangunan daerah tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Ia menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan ekosistem.
Menurutnya, kegiatan di Pantai Boliohuto menunjukkan komitmen pemerintah dan masyarakat terhadap lingkungan. Aksi tersebut juga dapat mendorong kesadaran publik untuk menjaga alam.
Sementara itu, Reda Manthovani mengajak masyarakat mengenalkan kepedulian lingkungan kepada anak-anak. Ia menilai pengalaman langsung dapat membantu membentuk karakter sejak dini.
Reda mengatakan kegiatan pelepasliaran satwa menjadi bagian dari aktivitasnya saat mengunjungi sejumlah daerah. Ia menyebut burung, penyu, dan penanaman bakau sebagai simbol unsur udara, air, dan tanah.
“Harapannya kepada bapak ibu semua yang hadir lebih bagus lagi kalau ada anak kecil supaya tertanam di memorinya bahwa menjaga atau berempati terhadap sesama makhluk itu adalah pembentukan karakter sehingga kita tidak saling merusak kedepannya,” kata Reda.
Reda berharap pemerintah daerah menjadikan kegiatan pelestarian lingkungan sebagai budaya. Ia juga mendorong pemerintah melibatkan anak-anak dalam kegiatan tersebut.
Menurut Reda, pengalaman menjaga alam dapat membangun memori emosional pada anak. Pengalaman itu kemudian dapat memengaruhi perilaku mereka saat dewasa.
Gusnar dan Reda menilai kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat pelestarian lingkungan. Keduanya juga mendorong pendekatan edukatif untuk membangun kepedulian alam secara berkelanjutan.

